Minggu, 28 Juni 2020

Gel Anti Jerawat







Kombinasi Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.)
Dan Pegagan (Centella Asiatica) Sebagai Gel Anti Jerawat



Oleh

Alya Sandrina Augesta

Program Studi S1 Farmasi,

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari




ABSTRAK


Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari - hari. Masalah jerawat dapat menimbulkan masalah psikologis karena mengganggu penampilan. Ekstrak daun kelor dan herba pegagan mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan fenolik yang dapat berperan sebagai antibakteri, mengurangi inflamasi, mengurangi kelenjar sebum dan melembabkan kulit. Tujuan penelitian ini melakukan analisa secara in vitro dan in vivo aktivitas gel kombinasi ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) dan herba pegagan (Centella asiatica (L.). Urb.) atau gel KEKP sebagai gel antijerawat. Aktivitas antijerawat diuji secara in vitro dengan menguji efek antibakteri terhadap P. acnes, aktivitas secara invivo dilakukan dengan pengamatan klinis dan pengukuran sekresi sebum. Gel berisi kombinasi ekstrak dengan berat yang sama. Dua belas sukarelawan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi mengikuti uji secara in vivo untuk mengetahui keamanan dan manfaat gel KEKP. Pada konsentrasi pengenceran 0,78% menunjukkan diameter daya hambat 10,4 mm. Medikline sebagai kontrol positif memberikan hasil yang lebih baik jika dibandingkan gel KEKP dengan diameter hambat minimal sebesar 16,6 mm. Perbaikan secara klinis dinilai dari berkurangnya tanda inflamasi, jumlah papul, pustule, nodul dan perubahan kadar sebum yang diukur menggunakan alat skin analysis. Hasil penelitian menunjukkan gel antijerawat KEKP secara invitro memiliki aktivitas antibakteri, dan secara invivo menunjukkan perbedaan klinis yang nyata.

Kata Kunci: : Moringa oleifera L., Centella asiatica, gel, anti jerawat


PENDAHULUAN

Jerawat merupakan salah satu masalah kulit yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari - hari. Meskipun jerawat bukan penyakit yang menyebabkan kematian dan gangguan kesehatan yang serius, pada kenyataannya masalah psikologis sering dialami oleh mereka yang mempunyai masalah jerawat, seperti menyebabkan depresi atau hilangnya rasa percaya diri seseorang. Penyebab jerawat sampai dengan saat ini belum diketahui dengan pasti, tetapi empat faktor yaitu hiperkeratinisasi folikel, hipersekresi sebum, proses inflamasi kronis pada kelenjar sebasea dan kolonisasi bakteri Propionibacterium acne telah diyakini berkontribusi besar menjadi penyebab jerawat. Hal ini dikarenakan bakteri P. acnesmampu memproduksi faktor kemotaktik yang menyebabkan terjadinya akumulasi netrofil pada daerah lesi jerawat. Setelah terjadi fagositosis oleh netrofil, enzim lisosom dan ROS akan dilepas dan keadaan ini mampu memprovokasi respon imun dan reaksi inflamasi. Sampai saat ini, belum ada penanganan jerawat yang paling tepat. Pemberian antibiotik terbukti efektif untuk mengatasi jerawat, namun resistensi antibiotik yang semakin meluas menjadi masalah penting diseluruh dunia. Bahan alam yang mempunyai efek antibiotik dapat menjadi jawaban atas masalah tersebut diantaranya adalah tanaman kelor (Moringa oleifera Lam.) dan pegagan (Centella asiatica (L.).Urb.). Selain efek sebagai antibiotik, kombinasi kedua tanaman tersebut diduga mampu mempercepat penyembuhan jerawat dan memperbaiki kondisi sebum.
Tanaman kelor (Moringa oleifera Lam.) telah banyak diteliti dan terbukti mempunyai banyak manfaat baik daun, bunga maupun bijinya. Selain kaya dengan kandungan gizinya, ternyata mampu memberikan hasil yang baik untuk pengobatan antibakteri baik gram positif dan negatif, anti inflamasi, antiulser, dan anti jamur. Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun kelor telah terbukti mampu meningkatkan kelembaban kulit, berperan pula sebagai anti aging karena kandungan anti oksidannya yang tinggi dan mampu mengurangi sekresi kelenjar sebum sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan jerawat. Pegagan (Centella asiatica (L.).Urb.) dalam banyak penelitian juga menunjukkan aktivitas sebagai antibakteri baik gram positif dan beberapa gram negatif. Mekanisme kerja pegagan yaitu melalui kemampuan menstimulasi proliferasi fibroblast intraseluler, meningkatkan sintesa kolagen pada jaringan kulit dan juga meningkatkan kekuatan tarikan kulit yang baru terbentuk serta menghambat fase inflamasi pada bekas luka hipertrofik dan keloid. Hal ini sangat baik untuk penanganan jerawat karena kebanyakan kasus pada proses penyembuhan jerawat disertai terbentuknya kerompeng dan scar.
Disamping itu pegagan pernah diteliti mempunyai efek antibakteri terhadap Propionibakterium acnes dan menunjukkan hasil MIC (mg/dl) adalah 5 sedangkan MBC dalam mg/dl adalah >5.15 Pegagan pada konsenterasi 0.5% dikatakan telah mampu menyembuhkan luka dengan baik. Bentuk sediaan ikut berperan dalam keberhasilan penanganan jerawat. Sediaan dalam bentuk gel banyak digunakan karena sifat gel yang mudah menguap sehingga mudah mengering dan membentuk lapisan yang mudah dicuci, serta tidak mengandung minyak sehingga sediaan gel cocok untuk terapi topikal pada jerawat terutama penderita dengan tipe kulit berminyak karena tidak akan memperparah kondisi jerawat dan dapat mengurangi resiko timbulnya peradangan lebih lanjut akibat akumulasi minyak pada pori-pori kulit.
Manfaat daun kelor dan herba pegagan yang keduanya diyakini memiliki aktivitas sebagai antibakteri, antioksidan tinggi, anti inflamasi dan kemampuannya mempercepat penyembuhan luka sangat dibutuhkan untuk penatalaksanaan jerawat, namun pada penelitian tersebut kombinasi ekstrak daun kelor dan pegagan dalam bentuk sediaan kosmetik belum dilakukan sehingga data penelitian baik secara in vitro maupun in vivo kombinasi kedua tanaman tersebut juga belum ada. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kombinasi ekstrak daun kelor (Moringa oleifera Lam.) dan herba pegagan (Centella asiatica) secara in vitro dan in vivo sebagai gel anti jerawat.

ISI

Pada penelitian ini, uji in vitro dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Pengujian daya hambat dilakukan dengan dua metode yaitu metode cakram maupun sumuran. Diameter yang terbentuk termasuk diameter cakram. Pada metode cakram menggunakan diameter 6 mm dan pada konsentrasi 25% atau berat 25 gram kedua ekstrak menunjukkan hasil zona hambat 6 mm sehingga pada konsentrasi tersebut kedua ekstrak tidak mempunyai daya hambat terhadap bakteri. Uji diameter pada metode sumuran adalah 8 mm yang menunjukkan sebagai antibakteri sudah tidak memiliki daya hambat. Hasil penelitian menunjukkan pemeriksaan aktivitas antibakteri kedua ekstrak memiliki penghambatan terhadap mikroba P. Acnes pada konsentrasi pengenceran ≥ 50% pada berat ekstrak 1 gram. Ekstrak daun kelor pada konsentrasi pengenceran 50% dengan berat 1 gram atau 0,5 gram memiliki diameter daya hambat terhadap P.acne 8,4 mm dan herba pegagan pada konsentrasi yang sama dengan berat 0,5 gram mempunyai aktivitas antibakteri 10,6 mm.
Hasil penelitian skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dan herba pegagan mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, saponin, tannin, fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan glikosida. Hal ini membuktikan bahwa ekstrak daun kelor dan herba pegagan merupakan tanaman yang mempunyai kandungan antioksidan yang tinggi. Kemampuan menghambat aktivitas bakteri didapatkan dari senyawa alkaloid, flavononoid, tannin, saponin, dan fenolik. Sedangkan kandungan steroid mampu mengurangi reaksi inflamasi yang menyertai jerawat. Kombinasi kandungan senyawa – senyawa dari kedua ekstrak dapat digunakan sebagai antijerawat dengan mekanisme kerja sesuai dengan etiopatogenesis jerawat yaitu melalui penghambatan bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes), menekan proses inflamasi sehingga jumlah papul, pustul, nodul, rasa nyeri berkurang dan perubahan kadar sebum. Pada penelitian ini, uji in vitro dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Metode pemeriksaan aktivitas antibakteri menggunakan sumuran dan cakram. Pada pengujian, penggunaan metode sumuran lebih dipertimbangkan dikarenakan pada metode cakram, dimana sampel berupa cairan semi gel, saat diletakkan diatas media menyebabkan difusi cairan ke dalam paper meluber dan mempengaruhi zona hambat yang terbentuk sehingga data yang digunakan adalah hasil dari pengujian dengan menggunakan metode sumuran dikarenakan zona yang terbentuk lebih jelas.
Dari hasil penelitian yang membuktikan bahwa kedua ekstrak mempunyai aktivitas antibakteri pada berat yang sama yaitu 0,5 gram, dilakukanlah uji percobaan formula kombinasi dengan berat dibawah nilai skrining dengan tujuan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya efek sinergi jika kedua ekstrak dikombinasikan. Uji ini dilakukan dengan cara membuat gel kombinasi yang berisi ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dalam empat formula dengan perbandingan ekstrak 1:1. 


KESIMPULAN

Ekstrak serbuk dan gel kombinasi ekstrak daun kelor dan herba pegagan mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Propinobacterium acnes. Pada saat dikombinasi dalam bentuk gel memerlukan berat yang lebih besar dibandingkan dalam bentuk serbuk tunggal yang hanya dilarutkan dengan NaCL. Gel yang mengandung kombinasi ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dapat diformulasi menjadi gel yang memenuhi persyaratan mutu fisika dan kimia. Gel dengan kombinasi ekstrak daun kelor dan herba pegagan terbukti aman secara klinis terhadap sampel penelitian. Gel dengan kombinasi ekstrak daun kelor dan herba pegagan terbukti secara visual memperbaiki tingkat keparahan jerawat dan mampu secara laboratoris menurunkan kadar sebum. Penelitian ini masih banyak keterbatasan, sehingga besar harapan agar dapat menjadi dasar untuk dilakukan penelitian selanjutnya.








REFERENSI

Ndhlala AR,  Mulaudzi R,  Ncube B, et  al. Antioxidant, Antimicrobial and Phytochemical Variations in Thirteen Moringa oleifera Lam. Cultivars. Molecules. 2014;19(7): 10480-94

Wasitaatmadja SM. Manifestasi klinis, klasifikasi, dan stadium akne. National Symposium and Workshop in Cosmetic Dermatology. Acne: New concept and challenges. Jakarta. 2010

Ali A, Akhtar N, Khan. MS, et al. Effect of Moringa oleifera on undesireble skin sebum secretions of sebaceous glands observed during winter season in humans. Biomedical Research. 2013;24(1):127-130.

Kamis, 19 Maret 2020

Manfaat Tentang Daun Pegagan

Mari Kita Simak dan Mengenal Tentang 

Manfaat Daun Pegagan

Oleh Alya Sandrina Augesta




💗Assalamualaikum Wr Wb,...
SALAM KESEHATAN!!!!
hallo sobat-sobatku sekalian ini adalah pertemuan pertama kita dalam blog saya, di sini saya akan membahas tentang apa sih itu daun pegagan...
Ada yang tau apa fungsi yang sangat berpengaruhnya bagi kita para remaja, khususnya kita para wanita...
Kalo begitu ayo sama-sama kita bahas dan mengenal lebih dalam lagi daun pegagan ini💗

Centella asiatica alias gotu kola atau yang lebih dikenal dengan nama daun pegagan adalah tanaman liar yang banyak tumbuh di negara Tiongkok, Indonesia, Jepang, dan India. Sejak ribuan tahun lalu, pegagan disebut sebagai ramuan abadi yang digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Pegagan memiliki nama berbeda-beda, bergantung pada daerahnya. Di Jakarta dan Aceh namanya pegagan, di Jawa Barat disebut antanan, masyarakat Sumatera menyebutnya kaki kuda, dan masyarakat Madura menamainya tikusan dan masyarakat Bali menyebutnya taiduh. Masih banyak lagi nama lokal pegagan, seperti kori-kori (Halmahera), gagan-gagan atau panigowang (Jawa), pegago (Minangkabau), dogauke atau sandanan atau gogauke (Papua), kalotidi manora (Maluku), dan bebile (Lombok).
Sebutan pegagan di beberapa negara antara lain adalah takip-kohot (Filipina), brahma butu (India), Indian hydrocotyle (India), India penny wort (Inggris), dan gotu kola (Sri Lanka). Di Tiongkok dikenal dengan nama ji xue cao, yang dipercaya masyarakat setempat dapat memperpanjang umur. Sementara di Perancis dikenal dengan nama bevilaque, hydrocote d’Asie, atau cotyiole asiatique. Pegagan atau kaki kuda (Centella asiatica L.), tumbuh pada tegalan, padang rumput, tepi selokan dan pinggir jalan, merupakan tumbuhan herba tahunan yang menjalar dan berkembang dengan stolon. Khasiat pegagan adalah sebagai anti lupa, memberi umur panjang, adaptogenik, anti-pyretik, anti spasmodik, aphrodisiak, astringent, pembersih darah (keracunan logam), diuretik, nervine, sedative, menyembuhkan penyakit lepra, luka luar seperti habis melahirkan dan psoriasis (terbakar)

https://www.google.com/search?q=daun+pegagan&safe=strict&sxsrf=ALeKk00nmEEhXErkbgMcnB6Ts8c-V9u0gQ:1584629662075&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEwjU4O7A5aboAhXGX30KHQxeCagQ_AUoAXoECBcQAw&biw=1366&bih=657#imgrc=tpD0JjCpXgYtGM


Nah ini dia penampakan daun pegagan yang memiliki banyak manfaat itu teman-teman. Kita lanjutkan mengenal daun pegagan ini, pegagan merupakan tanaman herba tahunan yang tumbuh menjalar dan berbunga sepanjang tahun. Tanaman akan tumbuh subur bila tanah dan lingkungannya sesuai hingga dijadikan penutup tanah. Jenis pegagan yang banyak dijumpai adalah pegagan merah dan pegagan hijau. Pegagan merah dikenal juga dengan antanan kebun atau antanan batu karena banyak ditemukan di daerah bebatuan, kering dan terbuka. Pegagan merah tumbuh merambat dengan stolon (geragih) dan tidak mempunyai batang, tetapi mempunyai rhizoma (rimpang pendek). Sedangkan pegagan hijau sering banyak dijumpau di daerah pesawahan dan disela-sela rumput. Tempat yang disukai oleh pegagan hijau yaitu tempat agak lembap dan terbuka atau agak ternaungi. Selain itu, tanaman yang mirip pegagan atau antanan ada empat jenis yaitu antanan kembang, antanan beurit, antanan gunung dan antanan air.
Pegagan yang simplisianya dikenal dengan sebutan Centella Herba memiliki kandungan asiaticoside, thankuniside, isothankuniside, madecassoside, brahmoside, brahmic acid, brahminoside, madasiatic acid, meso-inositol, centelloside, carotenoids, hydrocotylin, vellarine, tanin serta garam mineral seperti kalium, natrium, magnesium, kalsium dan besi. Diduga glikosida triterpenoida yang disebut asiaticoside merupakan antilepra dan penyembuh luka yang sangat luar biasa. Zat vellarine yang ada memberikan rasa pahit. Pegagan termasuk tanaman tahunan daerah tropis yang berbunga sepanjang tahun. Tanaman ini tumbuh menjalar di atas permukaan tanah. Bentuk daunnya seperti ginjal, bertangkai panjang dan tepinya bergerigi. Pegagan menyukai tanah yang lembab dan cukup sinar matahari atau tempat teduh (Suryo 2010). Pegagan tumbuh dengan baik yang ditandai dengan daunnya yang besar dan tebal karena ditanam pada tempat yang intensitas cahayanya 30-40%.
Pegagan dipercaya memiliki senyawa anti mikroba, dan terbukti dari beberapa senyawa yang berkhasiat, ternyata juga mampu meminimalisir bakteri. Untuk bakteri Eschericia coli yang merupakan bakteri penyebab diare, pada ekstrak pegagan pada 25% mampu menghambat perkembangan bakteri dan pada kadar 50% mampu membunuh bakteri. Namun, ekstrak daun pegagan belum mampu menghambat pertumbuhan Vibrio cholerae yang merupakan penyebab penyakit kolera (Ramadhan, 2015). Penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa ekstrak pegagan dengan metanol mempunyai aktivitas daya hambat yang tinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus cereus, Pseudomonas aeruginosa, dan Escherichia coli (Arumugam, 2011).
Selain itu, jenis ekstrak juga berpengaruh terhadap daya hambat mikroba. Jenis ekstrak yang menggunakan air merupakan jenis ekstrak yang terburuk dalam pengekstrakan yang kurang efektif untuk dijadikan bahan. Ekstrak pegagan dengan konsentrasi 10% dengan menggunakan pelarut metanol sudah mampu membangun 20 mm zona hambat mikroorganisme (Arumugam, 2011). Selain pengujian bakteri mikroba, juga telah diuji untuk kapang dan jamur. Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa pegagan mampu menghambat pertumbuhan Aspergillus dengan ekstrak 25 ul sudah mampu menghambat Aspergillus yang diinkubasi selama 4 minggu yang cukup signifikan.


Jadi terdapat banyak sekali manfaat dari daub pegagan, lalu bagaimana tentang pembahasan di atas? semoga bernabfaat ya, terimakasih  sudah menyempatkan untuk membaca selamat berjumpa di blog selanjutnyaaaaa.........😉😉😉

Referensi:

Kumar, A.A., K. Karthick, Arumugam, K. P., 2011, Properties of Biodegradable Polymers and Degradatin for Sustainable Development, International Journal of Chemical Engineering and Applications, 2(3), 164-167.

Suryo, J., 2010, Herbal Penyembuhan Gangguan Sistem Pernapasan, B First, Yogyakarta

Ramadhan. (2012). Pembutan Permen Hard Candy yang Mengandung Propolis sebagai Kesehatan gigi. Jakarta: Skripsi, Universitas Indonesia

Kumar, Anil. et.al. 2011. Centella asiatica Attenuates D-Galactose-Induced Cognitive Impairment, Oxidative and Mitochondrial Dysfunction in Mice. International Journal of Alzheimer’s Disease. Vol.9.

Yusuf, Abdul Malik dkk. 2010. Hubungan Radikal Bebas dan Antioksidan Dengan Kerusakan Ginjal Pada Obstruksi Akut; Eksperimen Pada Hewan Coba. Surabaya: Program studi urologi FK UNAIR