Kombinasi
Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera Lam.)
Dan
Pegagan (Centella Asiatica) Sebagai Gel Anti Jerawat
Oleh
Alya Sandrina Augesta
Program Studi S1 Farmasi,
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Borneo Lestari
ABSTRAK
Jerawat
merupakan salah satu masalah kulit yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari -
hari. Masalah jerawat dapat menimbulkan masalah psikologis karena mengganggu
penampilan. Ekstrak daun kelor dan herba pegagan mengandung senyawa alkaloid,
flavonoid, saponin, tannin dan fenolik yang dapat berperan sebagai antibakteri,
mengurangi inflamasi, mengurangi kelenjar sebum dan melembabkan kulit. Tujuan
penelitian ini melakukan analisa secara in vitro dan in vivo aktivitas gel
kombinasi ekstrak daun kelor (Moringa oleifera L.) dan herba pegagan (Centella
asiatica (L.). Urb.) atau gel KEKP sebagai gel antijerawat. Aktivitas
antijerawat diuji secara in vitro dengan menguji efek antibakteri terhadap P.
acnes, aktivitas secara invivo dilakukan dengan pengamatan klinis dan
pengukuran sekresi sebum. Gel berisi
kombinasi
ekstrak dengan berat yang sama. Dua belas sukarelawan yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi mengikuti uji secara in vivo untuk mengetahui keamanan dan
manfaat gel KEKP. Pada konsentrasi pengenceran 0,78% menunjukkan diameter daya
hambat 10,4 mm. Medikline sebagai kontrol positif memberikan hasil yang lebih
baik jika dibandingkan gel KEKP dengan diameter hambat minimal sebesar 16,6 mm.
Perbaikan secara klinis dinilai dari berkurangnya tanda inflamasi, jumlah
papul, pustule, nodul dan perubahan kadar sebum yang diukur menggunakan alat skin
analysis. Hasil penelitian menunjukkan gel antijerawat KEKP secara invitro
memiliki aktivitas antibakteri, dan secara invivo menunjukkan perbedaan klinis
yang nyata.
Kata
Kunci: : Moringa
oleifera L., Centella asiatica, gel, anti jerawat
PENDAHULUAN
Jerawat
merupakan salah satu masalah kulit yang umum dijumpai dalam kehidupan sehari -
hari. Meskipun jerawat bukan penyakit yang menyebabkan kematian dan gangguan
kesehatan yang serius, pada kenyataannya masalah psikologis sering dialami oleh mereka yang mempunyai
masalah jerawat, seperti menyebabkan depresi atau hilangnya rasa percaya diri
seseorang. Penyebab jerawat sampai dengan saat ini belum diketahui dengan
pasti, tetapi empat faktor yaitu hiperkeratinisasi folikel, hipersekresi sebum, proses
inflamasi kronis pada kelenjar sebasea dan kolonisasi bakteri Propionibacterium
acne telah diyakini berkontribusi besar menjadi penyebab jerawat. Hal ini
dikarenakan bakteri P. acnesmampu memproduksi faktor kemotaktik yang
menyebabkan terjadinya akumulasi netrofil pada daerah lesi jerawat. Setelah
terjadi fagositosis oleh netrofil, enzim lisosom dan ROS akan dilepas dan
keadaan ini mampu memprovokasi respon imun dan reaksi inflamasi. Sampai saat
ini, belum ada penanganan jerawat yang paling tepat. Pemberian antibiotik
terbukti efektif untuk mengatasi jerawat, namun resistensi antibiotik yang
semakin meluas menjadi masalah penting diseluruh dunia. Bahan alam yang
mempunyai efek antibiotik dapat menjadi jawaban atas masalah tersebut
diantaranya adalah tanaman kelor (Moringa oleifera Lam.) dan pegagan (Centella
asiatica (L.).Urb.). Selain efek sebagai antibiotik, kombinasi kedua tanaman
tersebut diduga mampu mempercepat penyembuhan jerawat dan memperbaiki kondisi
sebum.
Tanaman
kelor (Moringa oleifera Lam.) telah banyak diteliti dan terbukti mempunyai
banyak manfaat baik daun, bunga maupun bijinya. Selain kaya dengan kandungan
gizinya, ternyata mampu memberikan hasil yang baik untuk pengobatan antibakteri
baik gram positif dan negatif, anti
inflamasi,
antiulser, dan anti jamur. Pada penelitian yang telah dilakukan sebelumnya,
senyawa yang terkandung dalam ekstrak daun kelor telah terbukti mampu
meningkatkan kelembaban kulit, berperan pula sebagai anti aging karena
kandungan anti oksidannya yang tinggi dan mampu mengurangi sekresi kelenjar
sebum sehingga dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan jerawat. Pegagan
(Centella asiatica (L.).Urb.) dalam banyak penelitian juga menunjukkan
aktivitas sebagai antibakteri baik gram positif dan beberapa gram negatif. Mekanisme
kerja pegagan yaitu melalui kemampuan menstimulasi proliferasi fibroblast
intraseluler, meningkatkan sintesa kolagen pada jaringan kulit dan juga
meningkatkan kekuatan tarikan kulit yang baru terbentuk serta menghambat fase
inflamasi pada bekas luka hipertrofik dan keloid. Hal ini sangat baik untuk
penanganan jerawat karena kebanyakan kasus pada proses penyembuhan jerawat
disertai terbentuknya kerompeng dan scar.
Disamping
itu pegagan pernah diteliti mempunyai efek antibakteri terhadap
Propionibakterium acnes dan menunjukkan hasil MIC (mg/dl) adalah 5 sedangkan
MBC dalam mg/dl adalah >5.15 Pegagan pada konsenterasi 0.5% dikatakan telah
mampu menyembuhkan luka dengan baik. Bentuk sediaan ikut berperan dalam
keberhasilan penanganan jerawat. Sediaan dalam bentuk
gel banyak digunakan karena sifat gel yang mudah menguap sehingga mudah
mengering dan membentuk lapisan yang mudah dicuci, serta tidak mengandung
minyak sehingga sediaan gel cocok untuk terapi topikal pada jerawat terutama
penderita dengan tipe kulit berminyak karena tidak akan memperparah kondisi
jerawat dan dapat mengurangi resiko timbulnya peradangan lebih lanjut akibat
akumulasi minyak pada pori-pori kulit.
Manfaat
daun kelor dan herba pegagan yang keduanya diyakini memiliki aktivitas sebagai
antibakteri, antioksidan tinggi, anti inflamasi dan kemampuannya mempercepat
penyembuhan luka sangat dibutuhkan untuk penatalaksanaan jerawat, namun pada
penelitian tersebut kombinasi ekstrak daun kelor dan pegagan dalam bentuk sediaan
kosmetik belum dilakukan sehingga data penelitian baik secara in vitro maupun
in vivo kombinasi kedua tanaman tersebut juga belum ada. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisa kombinasi ekstrak daun kelor
(Moringa oleifera Lam.) dan herba pegagan (Centella asiatica) secara in vitro
dan in vivo sebagai gel anti jerawat.
ISI
Pada
penelitian ini, uji in vitro dilakukan untuk mengetahui aktivitas antibakteri
ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dalam menghambat pertumbuhan
mikroba. Pengujian daya hambat dilakukan dengan dua metode yaitu metode cakram
maupun sumuran. Diameter yang terbentuk termasuk diameter cakram. Pada metode
cakram menggunakan diameter 6 mm dan pada konsentrasi 25% atau berat 25 gram
kedua ekstrak menunjukkan hasil zona hambat 6 mm sehingga pada konsentrasi
tersebut kedua ekstrak tidak mempunyai daya hambat terhadap bakteri. Uji
diameter pada metode sumuran adalah 8 mm yang menunjukkan sebagai antibakteri
sudah tidak memiliki daya hambat. Hasil penelitian menunjukkan pemeriksaan
aktivitas antibakteri kedua ekstrak memiliki penghambatan terhadap mikroba P.
Acnes pada konsentrasi pengenceran ≥ 50% pada berat ekstrak 1 gram. Ekstrak
daun kelor pada konsentrasi pengenceran 50% dengan berat 1 gram atau 0,5 gram
memiliki diameter daya hambat terhadap P.acne 8,4 mm dan herba pegagan pada
konsentrasi yang sama dengan berat 0,5 gram mempunyai aktivitas antibakteri
10,6 mm.
Hasil
penelitian skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak daun kelor dan herba
pegagan mengandung senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, saponin, tannin,
fenolik, flavonoid, triterpenoid, steroid, dan glikosida. Hal ini membuktikan
bahwa ekstrak daun kelor dan herba pegagan merupakan tanaman yang mempunyai
kandungan antioksidan yang tinggi. Kemampuan menghambat aktivitas bakteri
didapatkan dari senyawa alkaloid, flavononoid, tannin, saponin, dan fenolik. Sedangkan
kandungan steroid mampu mengurangi reaksi inflamasi yang menyertai jerawat. Kombinasi
kandungan senyawa – senyawa dari kedua ekstrak dapat digunakan sebagai
antijerawat dengan mekanisme kerja sesuai dengan etiopatogenesis jerawat yaitu
melalui penghambatan bakteri Propionibacterium acnes (P. acnes), menekan proses
inflamasi sehingga jumlah papul, pustul, nodul, rasa nyeri berkurang dan
perubahan kadar sebum. Pada penelitian ini, uji in vitro dilakukan untuk
mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan
dalam menghambat pertumbuhan mikroba. Metode pemeriksaan aktivitas antibakteri
menggunakan sumuran dan cakram. Pada pengujian, penggunaan metode sumuran lebih
dipertimbangkan dikarenakan pada metode cakram, dimana sampel berupa cairan
semi gel, saat diletakkan diatas media menyebabkan difusi cairan ke dalam paper
meluber dan mempengaruhi zona hambat yang
terbentuk sehingga data yang digunakan adalah hasil dari pengujian dengan
menggunakan metode sumuran dikarenakan zona yang terbentuk lebih jelas.
Dari
hasil penelitian yang membuktikan bahwa kedua ekstrak mempunyai aktivitas
antibakteri pada berat yang sama yaitu 0,5 gram, dilakukanlah uji percobaan
formula kombinasi dengan berat dibawah nilai skrining dengan tujuan untuk
mengetahui kemungkinan terjadinya efek sinergi jika kedua ekstrak
dikombinasikan. Uji ini dilakukan dengan cara membuat gel kombinasi yang berisi
ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dalam empat formula dengan
perbandingan ekstrak 1:1.
KESIMPULAN
Ekstrak
serbuk dan gel kombinasi ekstrak daun kelor dan herba pegagan mempunyai
aktivitas antibakteri terhadap Propinobacterium acnes. Pada saat dikombinasi
dalam bentuk gel memerlukan berat yang lebih besar dibandingkan dalam bentuk
serbuk tunggal yang hanya dilarutkan dengan NaCL. Gel yang mengandung kombinasi
ekstrak daun kelor dan ekstrak herba pegagan dapat diformulasi menjadi gel yang
memenuhi persyaratan mutu fisika dan kimia.
Gel
dengan kombinasi ekstrak daun kelor dan herba pegagan terbukti aman secara
klinis terhadap sampel penelitian. Gel dengan kombinasi ekstrak daun kelor dan
herba pegagan terbukti secara visual memperbaiki tingkat keparahan jerawat dan
mampu secara laboratoris menurunkan kadar sebum. Penelitian ini masih banyak
keterbatasan, sehingga besar harapan agar dapat menjadi dasar untuk dilakukan
penelitian selanjutnya.
REFERENSI
Ndhlala
AR, Mulaudzi R, Ncube B, et al. Antioxidant, Antimicrobial
and Phytochemical Variations in Thirteen Moringa oleifera Lam. Cultivars.
Molecules. 2014;19(7): 10480-94
Wasitaatmadja
SM. Manifestasi klinis, klasifikasi, dan stadium akne. National Symposium and
Workshop in Cosmetic Dermatology. Acne: New concept and challenges. Jakarta.
2010
Ali
A, Akhtar N, Khan. MS, et al. Effect of Moringa oleifera on undesireble
skin sebum secretions of sebaceous glands observed during winter season in
humans. Biomedical Research. 2013;24(1):127-130.